Data may be outdated
Last updated: 1 month ago — Click refresh to get the latest statistics.
Ketika media sosial dijejali dengan para pekerja seni yang membuat jamming session dan media cetak atau online menyuarakan kampanye tetap di rumah, lagu ini mulai digarap. Berbekal rasa bebal, kerangka awal lagu mulai tercipta pada awal Maret tahun lalu. Ya benar, tahun lalu. Band ini memang lambat dalam hal produksi tapi berjanji untuk lebih gesit dalam wacana-wacana kedepan. Doakan saja. Kembali ke lagu ini, gitar akustik disahut vokal memenuhi memori telfon genggam sebagai bentuk tukar ide dalam masa pandemi. Todo Sabonded (Drum) mulai mengirim beberapa part mentah pada kawan-kawannya. Kelvin Sarosa (Gitar, Vokal) menyambut riang materi tersebut dengan sedikit kritik dan cacian bergelak tawa. Revisi lirik terjadi disana-sini, sedangkan notasi hanyalah masalah kecil. Apa yang bisa diharapkan? mereka tak terlalu ambil pusing dengan harmoni nada.
Gitar kopong ditodong microphone lalu diakali sedemikian rupa menjadi senjata awal mereka dalam membuat rekaman yang “proper”. Sadar mereka berdua terlalu bodoh dalam hal produksi musik, Arif Indrawan (Bass) maju sebagai record engineer. Hasilnya tetap bodoh juga. Dengan segenap rasa sombong karena dapat uang bantuan pemerintah era pandemi, mereka beli gitar listrik. Singkat cerita produksi mereka menjadi cukup layak. Puh!. Dari segi lirik, mengabadikan momen menjadi tujuan mereka. Mungkin lebih tepatnya menertawakan momen. Mereka mengangkat tema reptitif akhir-akhir ini, seperti yang anda duga,
Pandemi. Hore.
- Kelvin Sarosa
Gitar kopong ditodong microphone lalu diakali sedemikian rupa menjadi senjata awal mereka dalam membuat rekaman yang “proper”. Sadar mereka berdua terlalu bodoh dalam hal produksi musik, Arif Indrawan (Bass) maju sebagai record engineer. Hasilnya tetap bodoh juga. Dengan segenap rasa sombong karena dapat uang bantuan pemerintah era pandemi, mereka beli gitar listrik. Singkat cerita produksi mereka menjadi cukup layak. Puh!. Dari segi lirik, mengabadikan momen menjadi tujuan mereka. Mungkin lebih tepatnya menertawakan momen. Mereka mengangkat tema reptitif akhir-akhir ini, seperti yang anda duga,
Pandemi. Hore.
- Kelvin Sarosa